Judul Buku : Surat Untuk Ruth
Penulis : Bernard Batubara
Tebal Buku : 168 Halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : April 2014
ISBN: 978-602-03-3298-7
EISBN: 978-602-03-3288-8
Ubud, 6 Oktober 2012
Ruth, satu hal ingin kutanyakan kepadamu sejak lama, bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama? Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan. Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan? Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth?
Jika memang kamu harus pergi, berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk menikmati saat terakhir bersamamu.
Meski hanya sebentar, seperti senja yang senantiasa kamu lukis, atau seperti ciuman pertama kita yang ragu-ragu. Berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk memelukmu, karena aku belum mengungkapkan seluruhnya yang ingin kukatakan kepadamu.
Ironis, Ruth. Kamu berkata “aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.
-Areno
Harus diakui, setelah beberapa bulan lalu membaca novel Bernard Batubara yang berjudul Espresso aku kembali tertarik dengan buku Bernard yang lain. Gaya penceritaan penulis mampu membuatku ingin berlama-lama menikmati cerita, membaca dengan ritme yang lamban dan sesekali menghayati-- menempatkan diriku sendiri dalam kisah tersebut. Tapi sayang buku kedua yang dibaca dari buah pena dari Bernard Batubara ini kubaca cepat, lantaran durasi peminjaman hanya tiga hari.
Di awal cerita sudah dibuat terkesan dengan pembukanya yang manis sekali, novel ini berbentuk surat-surat dari seorang lelaki bernama Areno Adamar yang ditujukan kepada Ruth, seorang gadis yang membuatnya tertarik di pandangan pertama. Isi surat-surat itu mengisahkan perjalanan percintaan mereka dari awal bertemu hingga terjalin hubungan, dan berakhir.
Kisah cinta yang manis dan cukup dewasa, menurutku. Dalam novel ini tergambarkah cinta dari sudut pandang pria. Kukira hanya wanita yang bisa mengalami dilema semacam itu ternyata lelaki pun sama. Hanya bedanya, cara mengeksekusi perasaan dan pengungkapannya berbeda. Hal itulah yang bisa saya tangkap ketika membaca cerita ini.
Menjelang akhir saya berharap kisah cinta ini mengalami happy ending. Tapi sayang ternyata tidak. Buat kalian yang suka dengan cerita percintaan dengan konflik ringan dan gaya tulisan yang mendayu boleh dicoba untuk membaca novel ini.
Delhi Van Java, 9 Februari 2020
#NgereadKuy
#KMC8
#BacaBuku

No comments:
Post a Comment