REVIEW
Novel Merantau Ke Deli
Judul Buku : Merantau Ke Deli
Penulis : Prof. Dr. Hamka
Tebal Buku : 194+ x halaman
Penerbit : Bulan Bintang
Tahun Terbit : 1977
Blurb:
“Merantau Ke Deli” adalah 1 di antara kenangan saya sebelum Perang Dunia Kedua yang dimuat berturut dalam majalah “Pedoman Masyarakat” sebagai roman-roman saya yang lain.
Pada Perasaan saya, di antara buku-buku roman yang saya tulis, ‘Merantau Ke Deli inilah yang lebih memuaskan hati. Sebab bahannya semata-mata saya dapati dalam masyarakat sendiri, yang saya lihat saya saksikan.
~Buya Hamka~
Merantau Ke Deli adalah buku karya Buya Hamka yang merupakan novel kedua buah pena beliau yang saya baca. Mungkin kebanyakan orang telah membaca cerita ini sedari lama, bukan? Tapi saya malah baru kali ini. Mungkin bisa dibilang telat, tapi tak apa saya senang bisa membacanya sekarang. Novel ini merupakan sebuah novel sastra klasik yang membuat saya jatuh cinta setelah membaca bab ketiga.
Yang saya sukai dari novel Buya Hamka ini karena beliau mengangkat cerita dari adat dan budaya masyarakat setempat yaitu di Deli pada masa itu—di zamannya beliau. Dipadukan dengan kisah roman yang klasik dan apik menggunakan gaya bahasanya yang menyentuh juga menghanyutkan ketika dibaca. Dan di novel ini menceritakan pernikahan dari kedua adat yang berbeda.
Novel ini menceritakan kisah seorang lelaki perantau dari Minangkabau bernama Leman yang menikah dengan perempuan dari Jawa bernama Poniem. Biduk rumah tangga yang manis di awal, tapi bukanlah perjalanan hidup jika tanpa ujian bukan? Begitu juga dengan kisah Leman dan Poniem. Manis, pahit, getirnya kehidupan berumah tangga dialami oleh mereka. Hingga suatu masalah besar itu benar-benar mengorbankan salah satu pihak.
Menjelang akhir cerita, tadinya saya kira akan sad ending. Ternyata dugaan saya salah. Buat kalian yang suka novel klasik sarat moral dan budaya buku ini tuh recomended banget. Apalagi dengan gaya bahasa yang digunakan Buya Hamka ini begitu menyentuh menurut saya.
Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari novel ini; tentang hakikat berumah tangga, tentang adat Minangkabau dan adat Jawa. Juga perihal kesabaran, kesetiaan, mesti saling menghargai, dan tetaplah gigih juga ulet dalam melakukan apa pun. Jangan bersedih hati jika kau terbuang padahal telah banyak berjuang, boleh jadi itulah titik awal kesempatanmu untuk berkembang.
Ada quotes yang paling saya sukai dari novel ini:
“Sedang muda dunia dicapai, kalau sudah tua apa gunanya?”- Leman, Hal 24.
“Apabila manusia telah lemah mengambil timbangan untuk kepentingan dirinya sendiri pada kali yang pertama, kelemahan itu berturut-turutlah sampai pada akhirnya.”- Pecah, Hal 125.
Delhi Van Java, 2 Februari 2020

💗💗💗
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
DeleteMakasih 😊
ReplyDelete